Pernah melihat tulisan “food grade” pada sebuah produk minyak lalu bertanya-tanya, sebenarnya apa maksudnya?
Apakah food-grade oil berarti minyak tersebut pasti sehat? Apakah semua minyak yang bisa dimakan otomatis disebut food grade? Dan apakah minyak untuk kebutuhan industri berbeda dengan minyak yang digunakan untuk memasak?
Jawabannya tidak sesederhana “bisa dimakan berarti food grade”.
Dalam industri pangan, food grade berkaitan dengan kesesuaian bahan untuk digunakan dalam makanan berdasarkan persyaratan keamanan, mutu, proses produksi, kontaminasi, serta penggunaannya. Jadi, status tersebut bukan sekadar soal apakah minyak terlihat jernih, berwarna bagus, atau tidak berbau.
Minyak yang akan digunakan sebagai bahan pangan harus memenuhi persyaratan tertentu agar tidak menimbulkan risiko bagi konsumen.
Menariknya, standar minyak makan juga tidak hanya ditentukan oleh satu lembaga atau satu angka. Ada standar nasional, regulasi keamanan pangan, standar internasional seperti Codex Alimentarius, serta spesifikasi teknis yang digunakan industri.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan food-grade oil?
Apa Itu Food-Grade Oil?

Secara sederhana, food-grade oil adalah minyak yang memenuhi persyaratan untuk digunakan dalam aplikasi pangan dan aman digunakan sesuai tujuan penggunaannya.
Istilah food grade sendiri bukan nama jenis minyak.
Jadi, minyak sawit, minyak kelapa, minyak kedelai, minyak kanola, minyak jagung, maupun minyak lainnya dapat memiliki aplikasi food grade apabila memenuhi persyaratan yang berlaku untuk penggunaannya.
Codex Alimentarius, program standar pangan internasional yang dikembangkan FAO dan WHO, mengategorikan minyak dan lemak nabati sebagai bahan pangan yang dapat berasal dari satu sumber tanaman maupun campuran beberapa minyak. Produk tersebut dapat dipasarkan sebagai edible oil, cooking oil, frying oil, table oil, atau salad oil.
Dengan kata lain, food grade bukan berarti satu jenis minyak tertentu. Yang menentukan adalah apakah minyak tersebut memenuhi persyaratan keamanan dan mutu untuk digunakan sebagai pangan.
Baca juga: Mengenal Titik Didih Minyak Goreng dan Pengaruhnya Saat Memasak
Food Grade Bukan Berarti “Pasti Sehat”
Ini salah satu hal yang paling sering disalahpahami.
Ketika sebuah minyak disebut food grade, bukan berarti minyak tersebut otomatis merupakan pilihan paling sehat untuk setiap orang atau setiap jenis masakan.
Food grade terutama berbicara mengenai keamanan dan kesesuaian penggunaannya sebagai bahan pangan.
Sementara itu, pertanyaan seperti:
- berapa kandungan lemak jenuhnya?
- bagaimana profil asam lemaknya?
- bagaimana kandungan vitamin atau antioksidannya?
- cocok untuk metode memasak apa?
- bagaimana minyak tersebut digunakan dalam pola makan secara keseluruhan?
merupakan pertanyaan yang berbeda.
Jadi, “aman digunakan sebagai pangan” dan “paling sehat untuk kondisi tertentu” bukanlah hal yang sama.
Ini penting karena masyarakat terkadang menganggap label food grade sebagai klaim kesehatan. Padahal keduanya memiliki konteks berbeda.

Apa yang Membuat Sebuah Minyak Bisa Disebut Food Grade?
Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan.
1. Bahan Baku Harus Sesuai
Semuanya dimulai dari bahan baku.
Minyak pangan dapat berasal dari berbagai sumber tanaman, seperti kelapa sawit, kelapa, kedelai, jagung, bunga matahari, kanola, kacang tanah, dan berbagai sumber lainnya.
Namun, bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan minyak pangan harus memenuhi persyaratan yang sesuai.
Dalam standar Codex untuk minyak dan lemak yang dapat dimakan, minyak didefinisikan sebagai produk yang tersusun terutama dari gliserida asam lemak dan dapat berasal dari sumber nabati, hewani, maupun laut.
Artinya, sumber bahan baku merupakan bagian penting dari rantai keamanan pangan.
2. Proses Produksi Harus Terkendali
Bahan baku yang baik saja belum cukup.
Proses pengolahan juga menentukan kualitas akhir minyak.
Dalam industri minyak makan, proses dapat mencakup ekstraksi, pemurnian, pemucatan, deodorisasi, fraksinasi, filtrasi, hingga proses lainnya tergantung jenis minyak dan spesifikasi produk.
Tujuan proses tersebut bukan sekadar membuat minyak terlihat lebih menarik.
Pengolahan dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi komponen yang tidak diinginkan, sekaligus menghasilkan karakteristik minyak yang sesuai untuk penggunaan tertentu.
Karena itu, food grade tidak hanya berbicara tentang produk akhir, tetapi juga bagaimana produk tersebut dibuat dan ditangani.
Codex juga merekomendasikan agar minyak dan lemak pangan diproduksi serta ditangani sesuai prinsip higiene pangan yang berlaku.
3. Kontaminan Harus Dikendalikan
Ini merupakan bagian yang sangat penting dalam industri minyak makan.
Minyak dapat terpapar berbagai kontaminan dari bahan baku, lingkungan, proses produksi, penyimpanan, maupun distribusi.
Karena itu, keamanan pangan tidak cukup dinilai hanya dengan melihat warna dan kejernihan minyak.
Codex memiliki General Standard for Contaminants and Toxins in Food and Feed, yang menetapkan prinsip serta batas maksimum untuk berbagai kontaminan dan toksin dalam pangan.
Dalam standar minyak dan lemak Codex, misalnya, persyaratan juga mencakup pengendalian logam berat dan residu pestisida.
Inilah alasan pengujian laboratorium menjadi bagian penting dari industri minyak makan.
Sebuah minyak mungkin terlihat sangat jernih, tetapi penampilan saja tidak dapat membuktikan bahwa minyak tersebut memenuhi seluruh persyaratan keamanan pangan.
4. Ada Parameter Kimia yang Harus Diperhatikan
Dalam industri minyak, kualitas tidak hanya dinilai secara visual.
Ada berbagai parameter kimia yang digunakan untuk menggambarkan kondisi minyak.
Beberapa di antaranya adalah acid value, peroxide value, kadar air, kotoran tidak larut, serta parameter lainnya tergantung jenis minyak dan standar yang digunakan.
Acid Value
Acid value berkaitan dengan jumlah basa yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dalam minyak.
Secara sederhana, parameter ini dapat membantu menggambarkan tingkat keasaman minyak akibat keberadaan asam lemak bebas.
Peroxide Value
Sementara itu, peroxide value digunakan sebagai salah satu indikator produk oksidasi primer pada minyak.
Ketika minyak mengalami oksidasi, terutama akibat paparan oksigen, panas, cahaya, atau kondisi penyimpanan yang tidak sesuai, dapat terbentuk senyawa peroksida.
Codex menetapkan parameter mutu tertentu untuk minyak dan lemak yang termasuk dalam standarnya, termasuk batas acid value dan peroxide value yang berbeda berdasarkan jenis minyak.
Ini menunjukkan satu hal penting:
Minyak yang food grade bukan sekadar minyak yang “bisa dimakan”, tetapi minyak yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan yang relevan.
5. Bahan Tambahan Tidak Berarti Minyak Tidak Food Grade
Ada anggapan bahwa minyak yang mengandung bahan tambahan otomatis tidak lagi bisa disebut food grade.
Padahal, tidak selalu demikian.
Dalam standar pangan, bahan tambahan tertentu dapat diperbolehkan selama jenis, fungsi, dan jumlah penggunaannya memenuhi ketentuan yang berlaku.
Codex General Standard for Food Additives, misalnya, mencantumkan ketentuan bahan tambahan untuk kategori minyak dan lemak nabati. Beberapa antioksidan tertentu dapat digunakan dalam batas yang ditetapkan, sementara penggunaannya bergantung pada jenis produk dan ketentuan spesifiknya.
Bahkan, untuk minyak yang digunakan dalam proses penggorengan tertentu, Codex mencantumkan penggunaan agen antifoaming tertentu dengan batas maksimum yang ditetapkan.
Jadi, “ada bahan tambahan” tidak sama dengan “tidak food grade”.
Yang penting adalah apakah bahan tersebut diizinkan dan digunakan sesuai ketentuan.
Food Grade dan Industrial Grade Itu Berbeda
Nah, ini yang sangat penting terutama dalam industri.
Tidak semua minyak yang secara teknis disebut “oil” ditujukan untuk konsumsi manusia.
Ada minyak yang diproduksi untuk kebutuhan industri, misalnya untuk pelumas, kosmetik, bahan kimia, proses manufaktur, atau aplikasi teknis lainnya.
Walaupun secara visual minyak tersebut bisa saja terlihat sangat mirip dengan minyak makan, bukan berarti minyak tersebut aman dikonsumsi.
Perbedaan utamanya bukan hanya pada penampilan.
Minyak untuk aplikasi non-pangan dapat memiliki bahan baku, proses pemurnian, spesifikasi, bahan tambahan, kontrol kontaminan, serta sistem produksi yang berbeda.
Karena itu, minyak yang ditujukan untuk kebutuhan teknis tidak boleh dianggap aman untuk dikonsumsi hanya karena terlihat bersih atau memiliki tingkat kemurnian tertentu.
Sebaliknya, minyak yang memang diproduksi untuk industri pangan harus memenuhi persyaratan yang relevan dengan penggunaannya.
Bagaimana dengan Minyak Sawit?
Indonesia merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar dunia, sehingga pembahasan food-grade oil tentu sangat dekat dengan minyak sawit.
Untuk minyak goreng sawit di Indonesia, pengawasan keamanan dan mutu dilakukan melalui regulasi yang berlaku.
BPOM menjelaskan bahwa minyak goreng sawit merupakan salah satu produk pangan yang diawasi. BPOM juga menyebut bahwa produsen minyak goreng sawit harus memiliki IP CPPOB dan SPPT SNI minyak goreng sawit sebagai bagian dari persyaratan untuk memperoleh izin edar.
Menariknya, minyak goreng sawit di Indonesia juga termasuk pangan yang difortifikasi. BPOM menyatakan bahwa produk akhirnya diwajibkan mengandung vitamin A dan/atau provitamin A dengan kadar 45 IU per gram.
Artinya, untuk produk seperti minyak goreng sawit, konsep keamanan pangan tidak berhenti pada “minyaknya berasal dari sawit”.
Ada persyaratan proses, mutu, fortifikasi, standar, dan pengawasan sebelum produk sampai ke konsumen.
Food Grade Juga Berkaitan dengan Penyimpanan
Minyak yang sudah memenuhi standar ketika keluar dari pabrik tetap harus ditangani dengan benar.
Mengapa?
Karena kualitas minyak dapat berubah selama penyimpanan.
Paparan terhadap oksigen, panas, cahaya, air, dan kontaminan dapat memengaruhi stabilitas minyak.
Itulah sebabnya penyimpanan dan transportasi menjadi bagian dari sistem pengendalian mutu.
Codex bahkan memiliki Code of Practice for the Storage and Transport of Edible Fats and Oils in Bulk, yang menunjukkan bahwa rantai pasok juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas minyak pangan.
Dengan kata lain, food grade bukan hanya cerita tentang apa yang terjadi di pabrik.
Bagaimana minyak dikemas, disimpan, dikirim, dan ditangani juga penting.

Bagaimana Konsumen Mengenali Minyak Food Grade?
Untuk konsumen, tidak perlu mencoba menilai keamanan minyak hanya dari warna atau kekentalannya.
Beberapa hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah:
Pertama, periksa label produk.
Pastikan produk memang ditujukan untuk konsumsi pangan.
Kedua, perhatikan izin edar dan informasi produsen.
Produk pangan yang beredar secara resmi harus mengikuti ketentuan perizinan dan pelabelan yang berlaku.
Ketiga, periksa kemasan.
Kemasan yang rusak, bocor, atau menunjukkan tanda penyimpanan yang tidak semestinya perlu diwaspadai.
Keempat, perhatikan tanggal kedaluwarsa dan kondisi penyimpanan.
Dan yang tidak kalah penting, jangan membeli minyak yang sebenarnya diperuntukkan bagi kebutuhan industri hanya karena harganya lebih murah. Harga murah tidak sebanding dengan risiko jika produk tersebut tidak ditujukan untuk konsumsi manusia.
Baca juga: 10 Rekomendasi Minyak Masak Terbaik untuk Memasak Sehari-hari
Jadi, Apakah Semua Minyak yang Bisa Dimakan Itu Food Grade?
Secara prinsip, minyak yang memang diproduksi dan diedarkan secara legal untuk konsumsi harus memenuhi persyaratan pangan yang berlaku.
Tetapi istilah “food grade” tidak seharusnya dipahami sebagai sekadar “minyak yang tidak beracun”.
Standar pangan jauh lebih luas.
Ada aspek bahan baku, proses produksi, higiene, kontaminan, residu, bahan tambahan, karakteristik kimia, pelabelan, pengemasan, penyimpanan, hingga pengawasan produk.
Codex sendiri memiliki standar khusus untuk berbagai minyak nabati bernama serta standar umum untuk minyak dan lemak yang tidak tercakup dalam standar individual.
Jadi, sebuah minyak bisa memiliki spesifikasi berbeda dengan minyak lainnya tetapi tetap menjadi produk pangan yang memenuhi standar untuk tujuan penggunaannya.
Kesimpulan
Food-grade oil bukan berarti “minyak paling sehat”, dan bukan pula nama jenis minyak tertentu.
Food grade lebih tepat dipahami sebagai status kesesuaian minyak untuk digunakan dalam pangan berdasarkan persyaratan keamanan dan mutu yang berlaku.
Untuk mencapai standar tersebut, industri harus memperhatikan banyak hal: mulai dari bahan baku, proses pengolahan, higiene fasilitas, pengendalian kontaminan, parameter kimia, penggunaan bahan tambahan, hingga penyimpanan dan distribusi.
Di tingkat internasional, Codex Alimentarius menyediakan berbagai standar untuk minyak dan lemak pangan, sementara di Indonesia produk seperti minyak goreng sawit juga berada dalam kerangka regulasi dan pengawasan nasional.
Jadi, ketika kamu melihat tulisan “food grade”, jangan hanya menerjemahkannya sebagai “bisa dimakan”.
Di balik istilah sederhana tersebut ada seluruh sistem pengendalian mutu dan keamanan pangan yang memastikan minyak yang sampai ke meja makan sesuai untuk digunakan sebagai bahan pangan, memenuhi persyaratan yang berlaku, dan aman ketika digunakan sebagaimana mestinya.

